Fiqih

Ulasan Mengenai Speaker Masjid

toa masjid

Jalan tengah mengenai Polemik speaker masjid menurut Faisal Rahman adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para ulama salafus shalih.

Untuk masalah penggunaan speaker masjid, berdasarkan kenyataan yang terjadi di masyarakat, speaker masjid biasanya digunakan untuk:

  1. Adzan dan iqomah 5x sehari
  2. Pemutaran kaset murotal Al-Qur’an dan tadarusan menjelang sholat (sebelum adzan)
  3. Dzikir dan sholawatan setelah adzan (sebelum iqomah)
  4. Pengajian/Ta’lim

Nah, setelah masalah terpetakan, perlu dikaji satu per-satu

1) Soal penggunaan speaker untuk adzan dan iqomah

Nabi berkata kepada Abdullah bin Zaid;

“Lakukanlah bersama Bilal, ajarkan kepadanya apa yang kamu lihat dalam mimpimu. Dan hendaklah dia beradzan karena dia lebih TINGGI dan bagus suaranya dari kamu.” (HR. Tirmidzi;174, Ibnu Majah; 698)

Dalam riwayat lain,

Abu Sha’sha’ah Al-Anshari Al-Mazini dari Bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa’id Al Khudri berkata kepadanya;
“Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (penggembalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka KERASKANLAH suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu’adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat.”
‘Abu Sa’id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah”(HR. Bukhari; 574)

Artinya, suara adzan memang harus dikeraskan ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah dan sesuai dengan fungsi adzan itu sendiri, yaitu menyeru umat Islam untuk shalat

2) Mengenai penggunaan speaker masjid untuk pemutaran kaset murotal Al-Qur’an dan tadarusan menjelang sholat

Sesungguhnya membaca dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an adalah amalan yang disyariatkan. Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir; 29-30).

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

dan masih banyak lagi hadits2 yang menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur’an.
Adapun mengenai keutamaan mendengarkan bacaan Al-Quran, Allah berfirman:

“Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-A’raf; 204)

Artinya membaca Al-Quran dan mendengarkannya memang memiliki keutamaan. Begitupun membaca Al-Quran dengan suara keras, ini juga dibolehkan. Rasulullah bersabda,

“Tidaklah Allah berkenan mendengarkan sesuatu seperti Ia mendengar nabi-Nya yang membaguskan suaranya ketika membaca al Quran sambil melagukannya, kemudian ia mengeraskan bacaannya tersebut”. (Shohih Muslim, No.792, Sunan An Nasa’i, No.1017, Sunan Abu Dawud, No.1473)

Memutar Murottal dengan speaker luar

Namun tetap lebih utama dengan suara tidak dikeraskan, Rasulullah bersabda,
“Membaca Al Qur’an dengan suara keras, seperti bersedekah tanpa disembunyikan. Membaca Al Qur’an dengan lirih, seperti bersedekah dengan sembunyi-sembunyi” (HR. Tirmidzi no.2919, Abu Daud no.1333, Al Baihaqi, 3/13. Di-shahih-kan oleh Al Albani di Shahih Sunan At Tirmidzi)

Namun masalahnya, bagaimana jika membaca Al-Quran atau menyetel murottal di masjid dengan suara yang keluar melalui speaker (luar dan dalam) sehingga terdengar keras efeknya bukan hanya mengganggu non-muslim, tetapi juga mengganggu orang-orang yang sedang shalat sunnah atau membaca Al-Quran dengan lirih, bahkan mengganggu orang2 yang sedang istirahat atau sedang sakit?

Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya orang yang shalat tengah bermunajat pada Rabbnya ‘azza wa jalla, maka hendaklah seorang di antara kalian memperhatikan orang yang bermunajat itu, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaannya pada yang lain” (HR. Ahmad; 5326).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan;

“Dari sini tidak boleh bagi seorang pun mengeraskan bacaan Al Qur’an-nya sehingga menyakiti (mengganggu, pen) saudaranya yang lain seperti menyakiti saudara-saudaranya yang sedang shalat.” (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 23/64)

Maka disimpulkan membaca Al-Quran itu boleh dengan suara keras, namun sebaiknya dilakukan jika dalam situasi dan kondisi tidak mengganggu orang lain, seperti dilakukan di rumah Dan membacanya dengan suara rendah itu lebih utama.
Adapun menyetel murottal atau tadarusan melalui speaker masjid, jelas mengganggu orang yang sedang shalat dan tadarus, bahkan bisa mengganggu orang yg sedang istirahat dan sedang sakit, hal ini dilarang oleh Rasulullah berdasarkan hadits-hadits diatas.

3) Mengenai penggunaan speaker masjid untuk dzikir dan sholawatan setelah adzan, sebelum iqomah

Jika membaca Al-Quran dengan mengeraskan suara (apalagi dengan speaker) saja dilarang, apalagi dzikir dan sholawat

Allah berfirman;
“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.” (QS. Al A’raf: 205)
“Kami pernah bersama Rasulullah. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari; 2830, Muslim; 2704).

Ath Thobari rahimahullah berkata,
“Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya mengeraskan suara pada do’a dan dzikir. Demikianlah yang dikatakan para salaf yaitu para sahabat dan tabi’in.” (Fathul Bari, 6/135)

Dari Ibnu Abbas, “Dahulu kami mengetahui selesainya shalat pada masa Nabi karena suara dzikir yang keras”. (Shahihain)

Akan tetapi sebagian ulama mencermati dengan teliti perkataan Ibnu ‘Abbas tersebut, mereka menyimpulkan bahwa lafal “كُنَّا = Kunnaa” (Kami dahulu), mengandung isyarat halus bahwa perkara ini tidaklah berlangsung terus menerus.
Imam Syafi’i berpendapat bahwa asal dzikir adalah dengan suara lirih (tidak dengan jaher), berdalil dengan ayat,
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya” (QS. Al Isro’; 110).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang ayat tersebut, “Janganlah menjaherkan, yaitu mengeraskan suara. Jangan pula terlalu merendehkan sehingga engkau tidak bisa mendengarnya sendiri.” (Al Umm, 1/150)

Selain itu

Yang disunnahkan setelah adzan (sebelum iqomah) adalah,

– Sholat sunnah

Rasulullah bersabda,
“Antara adzan dan iqamat itu terdapat shalat –Rasul mengulanginya tiga kali- bagi siapa yang berkehendak.” (HR. Bukhari, Muslim)

– Berdoa

Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad)

– Bersholawat dan memintakan wasilah bagi Nabi Muhammad

“Apabila kamu mendengar mu’adzin, maka ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena sesungguhnya barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah merahmati dia karenanya sepuluh kali. Sesudah itu, mintalah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah adalah suatu kedudukan dalam surga, yang hanya patut untuk salah seorang di antara hamba-hamba Allah. Sedang aku berharap akulah yang menjadi hamba itu. Oleh karena itu, barangsiapa meminta kepada Allah wasilah untukku, maka pastilah dia mendapat syafaatku.” (HR. Muslim)

Dan tidak ada larangan untuk berdzikir dan mengucapkan puji-pujian. Namun hendaknya dilakukan sendiri2 dan dengan tidak mengeraskan suara, atau boleh mengangkat suara sebatas untuk didengar sendiri, jangan sampai mengganggu orang lain.
Ibnu Hajar berkata dalam Al Fatawa Al Kubro, “Para guru kami dan selainnya telah menfatwakan bahwa shalawat dan salam setelah kumandang adzan dan bacaan tersebut dengan dikeraskan sebagaimana ucapan adzan yang diucapkan muadzin, maka mereka katakan bahwa shalawat memang ada sunnahnya, namun cara yang dilakukan tergolong dalam bid’ah.”
Maka hendaknya, amalan-amalan setelah adzan, baik itu berdoa, bersholawat, berdzikir dan melantunkan puji-pujian hendaknya tidak dilakukan dengan pengeras suara.

4) Mengenai penggunaan speaker masjid untuk Majelis Ta’im (di masjid)

Hukumnya sama saja dengan diatas, hendaknya tidak menggunakan speaker luar, tapi boleh saja jika menggunakan speaker dalam.

Kesimpulan

  • Adzan adalah panggilan untuk shalat yang disyariatkan dilantunkan dengan suara keras Maka penggunaan speaker (luar dan dalam) masjid untuk adzan adalah hak umat Islam yang tidak boleh diganggu-gugat oleh siapapun
  • Penggunaan speaker masjid untuk penyetelan kaset murottal, tadarus, dzikir dan sholawatan sebaiknya tidak dilakukan (baik speaker luar maupun dalam) karena dikhawatirkan mengganggu orang lain, baik kalangan non-Muslim, atau muslim yang sedang beribadah, atau orang2 yang sedang sakit
    Namun ada usul yang baik, khusus hari jumat, menjelang shalat jumat dibolehkan menggunakan speaker (luar) masjid untuk penyetelan murottal
  • Penggunaan speaker masjid untuk Majelis Ta’lim sebaiknya hanya menggunakan speaker dalam
    Jadi

Marilah kita saling menghormati dan marilah kembali kepada Al-Quran dan Sunnah

Sumber: Faisal Rahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *