Rahasia Dibalik istilah “SATRIA PININGIT”

Rahasia Dibalik istilah “SATRIA PININGIT”

Wahai Saudaraku, Istilah “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” tentu tidaklah asing dan begitu familiar di kalangan masyarakat Pulau Jawa. Atau jika saya tidak berlebihan bisa dikatakan fenomenal, karena ia tidak lekang dan tidak lapuk oleh perkembangan zaman. Sebagai sebuah istilah yangg merujuk kepada sosok pemimpin yang ideal, dan diidam-idamkan. Yang akan membawa Nusantara menjadi mercu suar peradaban dunia.

Ramalan Jayabhaya

Tidak sedikit pula dari masyarakat Pulau Jawa yang mengkaitkan istilah “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” ini dengan Ramalan Prabu Jayabhaya. Padahal di dalam kitab yangg berjudul “Pralembang Joyobhoyo” atau “Serat Musarar Joyobhoyo”, yang ditulis oleh Prabu Sri Jayabhaya. Justru tidak ditemukan satu pun bait yang menyebutkan kata “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” secara lugas dan tersurat. Di dalam kitab yang berjudul “Pralembang Joyobhoyo” atau “Serat Musarar Joyobhoyo” itu justru hanya ditemukan diksi kata “Ratu Amisan”.

Istilah “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” itu justru muncul pada zaman para “Wali Songo” (wali sembilan) ketika menjalankan misinya mensyiarkan Ajaran Islam di Tanah Jawa.

Roni Djamaloeddin

Dan tidak sedikit pula dari masyarakat Pulau Jawa yg mengkaitkan istilah “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” ini dengan Ramalan Ronggowarsito. Padahal Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito di dalam kitabnya yg berjudul “Serat Kalathida”, juga tidak menyebutkan kata “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” secara lugas dan tersurat. Di dalam kitab yg berjudul “Serat Kalathida” itu justru hanya ditemukan diksi kata “Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro”, “Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar”, “Satrio Jinumput Sumelo Atur”, “Satrio Lelono Topo Ngrame”, “Satrio Hamong Tuwuh”, “Satrio Boyong Pambukaning Gapuro” dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu”.

Bahkan tidak sedikit pula dari masyarakat Pulau Jawa (khususnya Jawa Barat) yg mengkaitkan istilah “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” ini dengan Uga Wangsit Siliwangi. Padahal di dalam naskah Uga Wangsit Siliwangi sendiri juga tidak ditemukan satu pun bait yg menyebutkan kata “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” secara lugas dan tersurat. Di dalam naskah Uga Wangsit Siliwangi itu justru hanya ditemukan diksi kata “Bocah Angon” dan “Bocah Janggotan”.

Asal istilah Satria Piningit

Lalu pertanyaaannya yang cukup menggelitik. Dari manakah gerangan asal mula munculnya istilah “Satrio Paningit” atau “Satria Piningit”, hingga istilah ini menjadi begitu familiar di telinga masyarakat Pulau Jawa?

Usut punya usut, dan juga cek n ricek, ditambah dengan upaya pencarian dan penelusuran yg panjang. Akhirnya saya menemukan yakni salah satunya dalam buku yg berjudul “Menggugat Mitos, Meluruskan Filosofi dan Pemikiran Menuju Islam Kaffah” yg ditulis oleh Roni Djamaloeddin. Ternyata istilah “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” itu justru muncul pada zaman para “Wali Songo” (wali sembilan) ketika menjalankan misinya mensyiarkan Ajaran Islam di Tanah Jawa.

Seiring berjalannya waktu kemudian istilah “SADRIYA PININGIT” ini mengalami pergeseran lafal (transliterasi) menjadi “SATRIA PININGIT” atau “SATRIO PININGIT”

SADRIYA PININGIT

Dan istilah “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” inipun ternyata aslinya bukan tertulis “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit”. Melainkan tertulis sebagai “SADRIYA PININGIT”. Ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno yg berasal dari kata “SAD” yg berarti “enam”, “DRIYA” yg bermakna “indriya/indera tubuh”. Dan “PININGIT” yang berarti “memingit, menyembunyikan, menutup” sehingga istilah “SADRIYA PININGIT” bermakna “memingit atau menutup enam indera dalam tubuh manusia”. Nah seiring berjalannya waktu kemudian istilah “SADRIYA PININGIT” ini mengalami pergeseran lafal (transliterasi) menjadi “SATRIA PININGIT” atau “SATRIO PININGIT”.

Adopsi Wali Songo

Istilah “SADRIYA PININGIT” yang bermakna “memingit atau menutup enam indera dalam tubuh manusia” ini diadopsi oleh para Wali Songo (wali sembilan) dari ajaran Thariqat (Tarekat) yg berasal dari Imam Ali bin Abi Thalib ra yg didasarkan pada Hadist Rasulullah saw yg mengisahkan ketika Rasulullah saw membai’at Imam Ali ibn Abi Thalib ra.

Berikut bunyi haditsnya…

“Angkatlah Tanganmu dan Tutuplah Pintumu”.

HR. Al-Hakim dari Ya’la bin Syidad

Kalimat “Tutuplah Pintu” pada hadits di atas dijelaskan oleh Imam Bukhari dalam Kitabnya “Shahih Bukhari” Bab Menutup Pintu sebagai berikut,

“Rasulullah saw masuk ke dalam Baitullah kemudian beliau menutup Pintu Ma’rifat dengan menghadap kemana saja yang disukainya.”

Sementara Imam Nawawi dalam Kitabnya “Syarah Muslim” menjelaskan bahwa yg dimaksud dengan kalimat “Tutuplah Pintu” pada hadits di atas dengan penjelasan sebagai berikut,

“Yang Menutup Pintu adalah Rasulullah saw sendiri dengan maksud supaya lebih tenang qalbunya dan lebih khusyu’ dalam menyaksikan Nur Allah di dalam shalatnya ketika Beliau saw berada di dalam Baitullah.”

Praktik Thariqat

Dalam dunia Thariqat, praktik “Menutup Pintu Tubuh” ini seringkali disebut dengan istilah “Dzikir Penutup” atau “Dzikir Khatami” yg dalam Ajaran Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah lebih dikenal dengan istilah “Dzikir Khatam Khawajakan”.

Sedangkan oleh para Wali Songo (wali sembilan) ketika mensyiarkan Ajaran Islam di Tanah Jawa. Praktik “menutup pintu tubuh” ini diperkenalkan dalam konteks kearifan lokal dengan menggunakan Bahasa Jawa Kuno dengan istilah “SADRIYA PININGIT” yang merupakan akronim dari “SAD-DRIYA-PININGIT” yang bermakna “menutup enam indriya/enam indera tubuh manusia”.

Ilmu Jawa Kuno

Dalam Ilmu Jawa Kuno, adapun yg dimaksud dengan istilah “SADRIYA” atau “enam indriya/enam indera” dalam tubuh manusia adalah:

  1. Caksu Indriya, yakni Indera Penglihatan (mata), yg kemudian dilafalkan sebagai “Caksundriya”.
  2. Ghrana Indriya, yakni Indera Penciuman (hidung), yg kemudian dilafalkan sebagai “Ghranendriya”.
  3. Srota Indriya, yakni Indera Pendengaran (telinga), yg kemudian dilafalkan sebagai “Srotendriya”.
  4. Wak Indriya, yakni Indera Pengecapan (mulut), yg kemudian dilafalkan sebagai “Wakendriya”.
  5. Upastha Indriya, yakni Indera Kemaluan (penis/vagina), yg kemudian dilafalkan sebagai “Upasthendriya”.
  6. Payu Indriya, yakni Indera Pembuangan (anus/dubur), yg kemudian dilafalkan sebagai “Payundriya”.

Nah “SADRIYA” atau keenam indriya/indera ini memiliki pintu gerbang yang dikenal sebagai “Nawadwara”. Berasal dari kata “Nawa” yg berarti “sembilan”. Dan kata “Dwara” bermakna “pintu” sehingga kata “Nawadwara” bermakna “Sembilan Pintu” yakni 9 (sembilan) pintu yang terdapat pada 6 (enam) Indera Tubuh Manusia sebagai berikut:

  1. Caksu Indriya atau Indera Penglihatan (mata) memiliki 2 (dua) buah pintu.
  2. Ghrana Indriya atau Indera Penciuman (hidung) memiliki 2 (dua) buah pintu.
  3. Srota Indriya atau Indera Pendengaran (telinga) memiliki 2 (dua) buah pintu.
  4. Wak Indriya atau Indera Pengecapan (mulut) memiliki 1 (satu) buah pintu.
  5. Upastha Indriya atau Indera Kemaluan (penis/vagina) memiliki 1 (satu) buah pintu.
  6. Payu Indriya atau Indera Pembuangan (anus/dubur) memiliki 1 (satu) buah pintu.

Total ada 9 (sembilan) pintu yg terdapat pada 6 (enam) Indera tubuh manusia. Nah, menutup kesembilan pintu indera inilah kemudian dikenal dalam Bahasa Jawa yang lebih modern dengan istilah “BABAHAN HAWA SANGA” bermakna “Menutup Sembilan Pintu Hawa”.

Karana Kararuddhadrgastra

Praktik “menutup pintu tubuh” atau praktik “SADRIYA PININGIT” yang disebutkan dalam Hadits Rasulullah saw dengan kalimat: “Angkatlah Tanganmu dan Tutuplah Pintumu” ternyata memiliki kemiripan dengan praktik “Karana Kararuddhadrgastra” yg dijelaskan panjang lebar dalam salah satu literatur Ilmu Tantra Kuno Nusantara berbahasa Sansekerta yakni Lontar “Vijnanabhairava”.

Lontar “Vijnanabhairava”

Dalam Lontar “Vijnanabhairava“ disebutkan:
“Menghentikan kerja indra-indra dengan senjata (astra) berbentuk tangan, dan menutup kedua mata bahkan indra-indra lainnya yg ada di wajah. Maka simpul syaraf yg ada di tengah-tengah alis mata akan terbuka dan titik cahaya (bindu) dapat dirasakan. Setelah itu titik cahaya (bindu) akan lenyap dalam limpahan kesadaran saat perhatian berhasil dipusatkan pada satu titik. Disanalah dalam limpahan kesadaran, seseorang dibangkitkan dalam kondisi spiritual yg paling tinggi.”
(Lontar Vijnanabhairava, Sloka 36)

Dalam lontar tersebut dijelaskan bahwa praktik “Karana Kararuddhadrgastra” adalah sejenis mudra atau postur yg menggunakan tangan dan menggunakan kesepuluh jari, yg dilakukan dengan cara menutup kedua lubang telinga dengan dua buah ibu jari tangan, kedua mata ditutup dengan dua buah jari telunjuk, kedua lubang hidung ditutup dengan dua buah jari tengah, dan mulut ditutup dengan dua buah jari manis dan dua buah jari kelingking.

Jika dicermati dengan seksama, ternyata praktik “Karana Kararuddhadrgastra” ini memiliki kemiripan dengan praktik “Menutup Pintu Tubuh” atau praktik “SADRIYA PININGIT” yg disebutkan di dalam Hadits Rasulullah saw dengan kalimat “Angkatlah Tanganmu dan Tutuplah Pintumu”.

Ilmu Yoga Kuno Nusantara

Dan bahkan dalam beberapa literatur Ilmu Yoga Kuno Nusantara seperti Lontar Sanghyang Tattwajnana, Lontar Jnanasiddhanta, Lontar Ganapati Tattwa dan Lontar Wrhaspati Tattwa, praktik “Menutup Pintu Tubuh” atau praktik “SADRIYA PININGIT” ini dipraktikkan dengan lebih kompleks melalui pengaturan nafas dan disebut sebagai praktik “Pranayama-Yoga”.

Lontar “Sanghyang Tattwajnana”

Dalam Lontar “Sanghyang Tattwajnana” disebutkan sbb,

“Tutuplah semua pintu gerbang tubuh, mata, hidung, mulut, telinga, lantas hisaplah nafas, keluarkan lewat ubun-ubun. Bila belum terbiasa mengeluarkannya lewat sana, bisa mengeluarkannya lewat hidung, pelan saja keluarnya nafas. Itulah yang dinamakan Pranayamayoga.”
(Lontar Sanghyang Tattwajnana, Sloka 63)

Lontar Jnanasiddhanta

Dan dalam Lontar Jnanasiddhanta disebutkan sbb,

“Tutuplah semua lubang, mata, hidung, telinga dan mulut. Sesudahnya nafas dihirup sebelum dikeluarkan lewat ubun-ubun. Tetapi jika ini tidak dapat ditahan, boleh pula nafas dikeluarkan lewat hidung perlahan-lahan. Itulah yang dinamakan Pranayamayoga.”
(Lontar Jnanasiddhanta)

Lontar Wrhaspati Tattwa

Sedangkan dalam Lontar Wrhaspati Tattwa disebutkan sbb,

“Menutup semua jalan keluar nafas dari kepala. Semua jalan keluar harus ditutup, yakni mata, hidung, mulut, telinga. Nafas yg telah ditarik dikeluarkan melalui ubun-ubun. Jika tidak dapat mengeluarkan nafas dengan cara ini, maka nafas dapat dikeluarkan melalui hidung. Tapi hanya boleh mengeluarkan sebagian kecil dari mafas itu. Itulah yang dinamakan Pranayamayoga.”
(Lontar Wrhaspati Tattwa, Sloka 56)

Nah jika kita perhatikan, baik dalam literatur Ilmu Tantra Kuno Nusantara ataupun dalam beberapa literatur Ilmu Yoga Kuno Nusantara di atas, seluruhnya baru mengajarkan kombinasi praktik “Pranayama” (pengaturan nafas) dan praktik “Mudra Karana” (Menutup Pintu Tubuh) dari empat indriya/indera tubuh yg dikenal sebagai “CATUR DRIYA” yakni: mata, hidung, mulut dan telinga yg padanya hanya terdapat “SAPTA DWARA” atau “tujuh pintu” saja.

Penjelasan Praktik Menutup Pintu Tubuh

Lalu pertanyaannya adalah,
“Lantas dimanakah gerangan penjelasan tentang praktik menutup pintu tubuh “SADRIYA PININGIT” (menutup enam indriya) yg memiliki “NAWA DWARA” (sembilan pintu) itu berada?”

Jawabnya:
Ada dalam Lontar Ganapati Tattwa.

Lontar Ganapati Tattwa

Dalam Lontar Ganapati Tattwa disebutkan sbb,

“Menarik nafas dalam-dalam, dan bukan hanya menutup kedua lubang hidung, namun juga semua lubang yg lainnya, seperti mata, telinga, mulut dan juga mengkontraksikan otot-otot anus/dubur dan otot-otot sekitar alat kelamin, dan biarkan seluruh udara mengalir ke seluruh tubuh dan arahkanlah ke ubun-ubun, lalu tanpa memaksakan diri, hembuskanlah nafas pelan-pelan sampai habis. Itulah yang dinamakan Pranayamayoga.”
(Lontar Ganapati Tattwa, Sloka 6)

Dan berikut catatan yg saya terima dari Sang Guru tentang praktik “Menutup Pintu Tubuh” atau praktik “SADRIYA PININGIT” baik yg disebutkan dalam Hadits Rasulullah saw ataupun yg disebutkan dalam beberapa literatur Ilmu Tantra Kuno Nusantara dan Ilmu Yoga Kuno Nusantara di atas.

Ketahuilah wahai anakku, bahwa Allah azza wa jalla menciptakan empat indriya/indera pada kepala manusia yg seluruhnya memiliki tujuh buah lubang yg disebut sebagai “tujuh pintu” atau “tujuh jalan”. Dan ketujuh pintu atau ketujuh jalan inilah yg disebutkan dalam Al-Quran sbb,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ

“Dan sungguh Kami telah menciptakan di atas (kepalamu) tujuh buah jalan dan tidak sekalipun Kami lengah terhadap ciptaan Kami.” (QS. Al-Mu’minun 23:17)

Nah dengan menutup keempat indriya/indera yg memiliki tujuh pintu atau tujuh jalan ini dengan kesepuluh jari tangan, maka energi vital yg terpendam akan berdiam di dalamnya.

Setelah tertutupnya keempat indriya/indera yg memiliki tujuh pintu atau tujuh jalan ini, maka energi vital akan merambat naik menuju titik di antara kedua alis mata dan menggetarkan simpul syaraf yg ada disana.

Dan ketika kedua mata ditekan dengan kontraksi otot atau kelopak mata, maka titik di antara kedua alis mata digetarkan oleh energi vital yg merambat naik maka percikan cahaya yg terkurung disana (dalam konteks Islam dikenal dengan istilah “Nur Muhammad” dan dalam konteks tantra dan yoga dikenal dengan istilah “Bindu”) akan muncul.

Dan ketika seseorang sudah melihat penampakan percikan cahaya yg dikenal sebagai “Nur Muhammad” atau “Bindu” ini lalu kemudian berkonsentrasi padanya, dan ketika konsentrasi menjadi semakin kuat maka secara bertahap penampakan percikan cahaya “Nur Muhammad” atau “Bindu” ini pun akan menghilang dengan sendirinya dan akhirnya lenyap dalam kesadaran universal.

Inilah yg disebut sebagai pencerahan tertinggi yg dalam Ajaran Thariqat disebut dengan istilah “Fana Fillah” yakni pencerahan tertinggi dari seorang Salik, dan dalam konteks Tantra atau Yoga disebut dengan istilah “Parama Sthitih” yakni pencerahan tertinggi dari seorang Yogi.

Fana Fillah

Namun rupanya praktik “Menutup Pintu Tubuh” yg dalam penjelasan di atas disebutkan barulah sebatas menutup tujuh pintu atau tujuh jalan yg ada di kepala, justru dalam hadits Rasulullah saw yg lebih lengkap ketika Rasulullah saw membai’at Imam Ali ibn Abi Thalib ra malah terdapat penjelasan tambahan tentang praktik menaikkah lidah ke langit-langit bagian atas mulut sambil mengucapkan dzikir “Allah Allah”.

وَعَنْ عَلِىٍّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ أَيُّ الطَّرِيْقَةِ أَقْرَبُ إِلَى اللهِ وَأَسْهَلُهَا عَلَى عِبَادِ اللهِ وَأَفْضَلُهَا عِنْدَاللهِ تَعَالَى؟ فَقَالَ: يَاعَلِىُّ عَلَيْكَ بِدَوَامِ ذِكْرِاللهِ فَقَالَ عَلِىُّ كُلُّ النَّاسِ يَذْكُرُونَ اللهَ فَقَالَ ص م: يَاعَلِىُّ لاَتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَيَبْقَى عَلَى وَجْهِ اْلأَرْضِ مَنْ يَقُولُ, اللهُ اللهُ. فَقَالَ لَهُ عَلِىُّ كَيْفَ أَذْكُرُ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ ص م: غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاَلْصِقْ شَفَتَيْكَ وَاَعْلَى لِسَانَكَ وَقُلْ اللهُ اللهُ .

Dan dari Imam Ali Karramahullahu wajhahu, beliau berkata: “Ya Rasulullah, manakah jalan/thariqat yang sedekat-dekatnya kepada Allah dan semudah-mudahnya atas hamba Allah dan semulia-mulianya di sisi Allah?” Maka sabda Rasulullah: “Ya Ali, penting atas kamu senantiasa berzikir kepada Allah”. Maka berkatalah Ali: “Setiap orang berzikir kepada Allah”. Maka Rasulullah saw bersabda: “Ya Ali, tidak akan terjadi kiamat hingga tiada lagi di atas permukaan bumi ini orang-orang yang mengucapkan Allah Allah”, maka sahut Ali kepada Rasulullah saw: “bagaimana caranya aku berzikir ya Rasulullah?” Maka Rasulullah saw bersabda: “coba pejamkan kedua matamu dan rapatkanlah kedua bibirmu dan naikkanlah lidahmu ke atas dan berkatalah engkau Allah-Allah”.

Lidah Imam Ali bin Abi Thalib ra kemudian dinaikkan ke atas ke langit-langit mulut, dan tentulah lisannya tidak dapat menyebut “Allah Allah”. Maka pada saat itu juga Imam Ali bin Abi Thalib ra mengalami sensasi “fana fillah”. Setelah Imam Ali bin Abi Thalib ra tersadar, maka Rasulullah saw bertanya kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra mengenai perjumpaannya dengan Allah, dan Imam Ali bin Abi Thalib ra berkata :

رَأَيْتُ رَبِّى بِعَيْنِ قَلْبِى, فَقُلْتُ لاَشَكَّ أَنْتَ أَنْتَ اللهُ

“Kulihat Tuhanku dengan mata hatiku dan akupun berkata: tidak aku ragu, engkau, engkaulah Allah”.

Setelah Imam Ali bin Abi Thalib ra menceritakan perjumpaannya dengan Allah. Maka kemudian Rasulullah saw membawa Imam Ali bin Abi Thalib ra di hadapan umat dan berkata :

اَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِى بَابُهَا

“Aku adalah gudangnya ilmu dan Ali adalah pintunya”. (HR. At-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Nah praktik “Menutup Pintu Tubuh” yg disertai dengan praktik “Menaikkah Lidah ke Langit-Langit Mulut” bersamaan dengan pembacaan dzikir “Allah Allah” ini dalam konteks Ilmu Tantra Kuno dan Yoga Kuno Nusantara disebut dengan istilah “Kechari Mudra”.

Lontar Vijnanabhairava

Dalam Lontar Vijnanabhairava disebutkan sbb:

“Jika seseorang menjaga mulutnya tetap terbuka lebar, dengan menggulung lidah ke bagian tengah dan mengarahkan pikiran pada bagian tengah mulut yg terbuka, kemudian melafalkan suara vokal rendah “ha” dalam batin, maka dengan begitu seseorang akan merasakan kedamaian”
(Lontar Vijnanabhairava, Sloka 81)

Dan dalam sloka yg lain disebutkan,

“Ketika lidah digulung cukup dalam dan menyentuh langit-langit mulut, kemudian di saat itu juga perhatian diarahkan di antara kedua alis mata, maka itulah yg disebut sebagai Kechari Mudra”.
(Lontar Vijnanabhairava)

Nah bedanya adalah jika dalam praktik “Kechari Mudra” Tantra dan Yoga, posisi mulut terbuka dan membaca mantra kata “ha” dalam batin, maka dalam praktik Thariqat Islam yg diajarkan Rasulullah saw kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra justru posisi mulut dalam keadaan tertutup dengan kedua bibit terkatup rapat dan membaca dzikir “Allah Allah” dalam batin.

Kultivasi energi aliran Tao Kuno

Dalam sistem ilmu kultivasi energi aliran Tao Kuno, posisi lidah menempel langit-langit merupakan “Jembatan atas magpie”. Menghubungkan dua arus energi dalam titik meridian Ren dan titik meridien Du dengan titik Dantian (di bawah pusar dekat kemaluan). Dan titik Hui Yin (di dekat dubur/anus) yg kemudian akan mengaktivasi kelenjar “pineal body” yg ada di kepala.

Inilah yg disebut dengan praktik “menutup sembilan pintu tubuh” yg terdapat pada enam indriya/indera tubuh yg disebut sebagai “SADRIYA PININGIT” yakni menutup kedua mata, kedua lubang hidung, kedua lubang telinga, mulut, lubang dubur/anus dan lubang kemaluan.

Dan bahkan atas petunjuk wahyu, praktik “SADRIYA PININGIT” ini disempurnakan oleh Rasulullah saw melalui kombinasi praktik “Kechari Mudra”. yang merupakan raja dari segala praktik tantra dan yoga yg ada di dunia dan praktik pengaturan nafas “Pranayama Yoga” yg dalam Ajaran Thariqat disebut dengan istilah “Dzikir Nafas”.

Praktik Kechari Mudra dan Pranayama Yoga

Pertanyaannya:
Lalu mengapa Rasulullah saw harus menambahkan kombinasi praktik “Kechari Mudra” (melipat ujung lidah ke langit-langit mulut) dan praktik dzikir nafas “Pranayama Yoga” ke dalam praktik “Menutup Sembilan Pintu Tubuh”? yang dalam konteks lokal disebut dengan praktik “Sadriya Piningit” …?

Berikut penjelasannya …

Ahli ilmu kesehatan kuno Tao yg bernama Hongjing mengatakan bahwa Orang yang mempraktekkan metode menelan air liur, dapat memperpanjang umur dan menyembuhkan segala macam aneka penyakit.

Perkataan Hongjing di atas bukan tanpa alasan. Faktanya bahwa sejak zaman kuno, Air Liur yang menurut kebanyakan orang nampaknya biasa-biasa saja. Namun oleh para praktisi ilmu kesehatan kuno justru disebut sebagai “cairan berharga”. Disebut pula sebagai “Jin jin yù yè” atau “cairan emas batu giok” dan dianggap sebagai sumber penting bagi kesehatan manusia. Dengan mempelajari beberapa teknik agar air liur terus eksis dengan terus-menerus memposisikan “lidah menempel di langit-langit mulut” selama beberapa menit. Maka di dalam mulut akan terkumpul air liur yang bercampur dengan hormon kelenjar parotid air liur. Jika ditelan maka salah satu khasiatnya dapat membuat tetap sehat dan awet muda.

Sungguh sebuah praktik pengajaran Thariqat yg sangat dahsyat manfaatnya baik secara lahir dan batin yg telah diajarkan Rasulullah saw kepada kita semua. Meskipun hanya segelintir orang saja yg mengetahuinya. Inilah rahasia terbesar yg diajarkan Rasulullah saw kepada kita semua. Ini pula rahasianya mengapa sepanjang kehidupannya, Rasulullah saw senantiasa sehat dan sangat jarang jatuh sakit kecuali saat menjelang kematiannya.

Masya Allah … 😱😱😱

Penutup

Demikianlah kajian singkat saya tentang Sedikit Rahasia dibalik pemaknaan istilah “SATRIA PININGIT”. Sejatinya ternyata tertulis sebagai “SADRIYA PININGIT”. Tentunya akan memiliki pemaknaan yg berbeda pula dari yg selama ini kita ketahui bersama.

Wallahu ‘alam Bish Shawab.
Hanya Allah Swt semata Yang Maha Mengetahui Kebenarannya.

Mohon maaf atas segala kesalahan karena Kesalahan semata-mata datangnya hanya dari diri saya pribadi. Dan Kebenaran datangnya semata-mata hanya dari Allah Swt Yang Maha Benar dan memiliki kebenaran yang tunggal dan bersifat mutlak.

Salam RAH-AYWA,
Yeddi Aprian Syakh
Sumber: https://www.facebook.com/yeddiapriansyakhalathas/photos/a.2454444231252068/2529389750424182/

Tinggalkan komentar