Fiqih

Puasa Romadhon

dasar hukum puasa ramadhan

Puasa merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima, yang wajib dikerjakan oleh setiap Mukmin dan Mukminah akil baligh yang mempunyai kemampuan fisik untuk melaksanakannya. Puasa dalam ajaran Islam mempunyai tujuan yang tinggi dan menyimbolkan makna yang dalam. Satu bulan lamanya kaum muslimin menjalani ibadah Romadhon dengan menahan lapar dan dahaga di siang hari, bukan karena kekurangan makanan dan minuman, melainkan lantaran memenuhi perintah Ilahi dan menyatakan kebaktian kepada Allah subhanahu wa ta’aala.

Dengan ibadah puasa itulah segenap kaum Muslimin menjalani proses pembinaan dan pendidikan, dengan introspeksi diri, melatih kedisiplinan, memperkuat semangat, meningkatkan daya tahan, mempertebal iman, memperbanyak amal dan berlatih mengendalikan diri dengan menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai puasa dalam pergaulan hidup di masyarakat.

Puasa dalam ajaran Islam merupakan rukun agama Islam yang keempat yang menempati kedudukan istimewa. Puasa bukan suatu hukuman terhadap manusia, melainkan merupakan suatu pembentukan sikap disiplin dan kemampuan mengendalikan diri. Puasa menguatkan kemauan dan membebaskan manusia dari cengkeraman nafsu, mempertinggi kesadaran moral, mempertajam kepekaan nurani dan memurnikan spiritualitas melalui pengaturan dan pengendalian keinginan. Dengan demikian puasa merupakan jihad (perjuangan) untuk mencapai kesimbangan fisik, moral dan spiritual.

Perlu menjadi perhatian bahwa puasa tidak hanya menahan lapar, dahaga dan hasrat seksual belaka. Lebih dari itu, tersimbolkan suatu makna yang lebih mendalam. Filosofi ibadah puasa adalah pengendalian diri dari segala perbuatan tercela dan menahan suatu kenikmatan sementara untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Puasa yang dilakukan secara mekanistik dan hanya sekedar melaksanakan kegiatan fisik tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seksual (bagi suami-istri) pada siang hari serta tidak mampu mewujudkan filosofi puasa dalam kehidupan sehari-hari adalah puasa yang tidak bermakna dan di sisi Allah merupakan hal yang sia-sia. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad, kita di peringatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلا الْجُوعُ , وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلا السَّهَرُ “

Artinya: Dari Abu Huroiroh r.a. dari Nabi sholallohu alaihi wa sallam, telah bersabda: “Betapa banyaknya orang berpuasa, namun perolehannya dari puasa itu hanyalah lapar dan dahaga belaka, dan berapa banyak orang yang melakukan qiyamul lail, namun yang ia peroleh dari qiyamul lail tersebut hanyalah kelelahan tidak tidur belaka.” [HR. Ahmad dan Ibn Majjah]

Dalam hadits lain dinyatakan pula bahwa Allah tidak membutuhkan puasa yang hanya sekedar melakukan aktifitas jasmani tanpa dapat mempengaruhi tingkah laku ke arah yang lebih baik seperti meninggalkan sifat suka berdusta misalnya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ 

Artinya: Dari Abu Huroiroh r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rosululloh saw telah bersabda: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak memandang perlu ia meninggalkan makanan dan minumannya.” [HR. al-Bukhori, at-Tirmidzi dan ia mengatakan hadits ini hasan sohih, Abu Daud, Ibn Majjah dan Ahmad].

Atas dasar inilah, hindari segala anggapan keliru yang mengarah kepada bermudah-mudah melakukan perbuatan maksiat dan dosa semata karena anggapan bahwa dengan puasa sunnah sehari saja apalagi puasa Romadhon, dosa-dosa yang dilakukan, bahkan dosa setahun sebelumnya dan selanjutnya akan diampuni, sehingga puasa dijadikan sebuah legitimasi untuk bermudah-mudah melakukan dosa dan maksiat. Seperti dikemukakan di atas puasa yang nilai-nilainya tidak di terjemahkan dalam tingkah laku menjadi amalan sia-sia di sisi Allah. Ibadah puasa yang sesungguhnya adalah puasa yang berdasarkan suatu komitmen otentik untuk meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat dan sekaligus terefleksikan nilai-nilainya dalam tingkah laku nyata.

Selain dari perlunya meresapi nilai-nilai dan makna yang disimbolkan puasa, juga sama pentingnya untuk memperhatikan dan menepati tuntunan-tuntunan syar’I mengenai pelaksanaannya sebagaimana diajarkan oleh Rosululloh saw.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *