Fiqih

MERAWAT JENAZAH

merawat jenazah

Merawat Jenazah. Jika salah seorang dari saudaramu yang muslim meninggal dunia, maka ucapkanlah kalimat istirjaa:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun

“Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali”

Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 156

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦)

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.].

Perlakuan Terhadap Jenazah

Dalam hal merawat jenazah, ada hal-hal yang harus segera dilakukan terhadap jenazah, yaitu:

  • Dipejamkan matanya, mendo’akan dan memintakan ampun atas dosanya
  • Dilemaskan tangannya untuk disedekapkan di dada dan kakinya diluruskan
  • Dikatupkan mulutnya dengan mengikatkan kain melingkari dagu, pelipis sampai ubun-ubun, bila jenazah menganga mulutnya
  • Bila memungkinkan jenazah diletakkan membujur ke arah utara dan badannya diselubungi dengan kain
  • Menyebarluaskan berita kematiannya kepada kerabat-kerabatnya dan handai tolannya
  • Diperbolehkan mencium dan menangisi jenazah, sepanjang tidak sampai menjerit-jerit dan meratap-ratap
  • Menyegerakan pelunasan hutang-hutang jenazah
  • Menyegerakan perawatanjenazah

Cara Merawat Jenazah

Adapun Tata Cara Merawat Jenazah terdiri dari :

  1. Memandikan Jenazah

  2. Mengkafani Jenazah

  3. Mesholatkan Jenazah

  4. Menguburkan Jenazah


Referensi

Shahih Muslim 1528

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَقَ الْفَزَارِيُّ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ ذُؤَيْبٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Mua’wiyah bin Amru telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al Fazari dari Khalid Al Hadzdza` dari Abu Qilabah dari Qabishah bin Dzu`aib dari Ummu Salamah ia berkata: Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah kami untuk menjenguk jenazahnya. Saat itu, mata Abu Salamah tengah terbeliak, maka beliau pun menutupnya. Kemudian beliau bersabda:

“Apabila ruh telah dicabut, maka penglihatan akan mengikutinya dan keluarganya pun meratap hiteris. Dan janganlah sekali-kali mendo’akan atas diri kalian kecuali kebaikan, sebab ketika itu malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” Setelah itu, beliau berdo’a: “Allahummaghfir Liabi Salamah Warfa’ Darajatahu Fil Mahdiyyiin Wakhlufhu Fi ‘Aqibihi Fil Ghaabiriin, Waghfir Lanaa Walahu Yaa Rabbal ‘Alamiin, Wafsah Lahu Fii Qabrihi Wa Nawwir Lahu Fiihi (Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang terpimpin dengan petunjuk-Mu dan gantilah ia bagi keluarganya yang ditinggalkannya. Ampunilah kami dan ampunilah dia. Wahai Rabb semesta alam. Lapangkanlah kuburnya dan terangilah dia di dalam kuburnya).”

Shahih Bukhari 5367

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ. أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَةٍ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf bahwa Aisyah radliallahu ‘anha isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepadanya bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, beliau ditutupi dengan kain hibarah (kain yang direnda atau bergaris).

Sunan Tirmidzi 998

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Zakariya bin Abu Za`idah dari Sa’ad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jiwa seorang mukmin itu terhalang dengan hutangnya, hingga dibayar hutang tersebut.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *