Fiqih

Kedudukan Saksi Laki-Laki dan Perempuan dalam Islam

saksi perempuan dalam islam / hijab

Pertanyaan seputar jumlah saksi dalam Islam

Berapa saksi dalam muamalah? (Muamalah adalah Transaksi Keuangan)

Disarankan Dua Saksi Laki-laki. Jika tidak mendapatkan dua laki-laki, maka Satu Laki-laki dan Dua Perempuan.

Berapa saksi dalam membuat wasiat?

Dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu

Berapa saksi dalam kasus perceraian?

Rujukilah mereka dengan baik atau ceraikanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah

Berapa saksi dalam kasus perzinahan

Diperlukan empat saksi dalam kasus tuduhan terhadap wanita yang melanggar kesucian

Apakah cukup seorang wanita diterima kesaksiannya dalam kasus tertentu?

Kesaksian dari seorang Aisyah rodhiallahu anha sudah cukup untuk dapat diterimanya sebuah hadits
Dalam beberapa kasus, saksi perempuan lebih dipilih

Mengapa dua saksi perempuan setara dengan satu saksi laki-laki?

Saksi dua perempuan tidak selalu disetarakan dengan satu saksi laki-laki. Di dalam Al Qur’an ada lima ayat yang menyebutkan tentang saksi tanpa ada pengkhususan laki-laki atau perempuan. Hanya ada satu ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan persaksian dua wanita setara dengan satu laki-laki. Ayat ini terdapat di surat Al-Baqoroh, surat ke-2 ayat 282. Ini adalah ayat terpanjang di Al-Qur’an tentang transaksi finansial. Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman:

Ayat tentang pencatatan transaksi

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأخْرَى وَلا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلا تَرْتَابُوا إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Arti Surat Al Baqarah 282

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah[*] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya.

Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqoroh 2:282)

[*] Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya.

Penjelasan Al Baqarah 282

Ayat ini hanya berkaitan dengan perjanjian dalam transaksi keuangan. Dalam kasus tersebut, sangat disarankan untuk membuat perjanjian tertulis, antara dua belah pihak dan mengambil dua saksi, sebaiknya keduanya laki-laki. Jika tidak mendapatkan dua laki-laki, maka satu orang laki-laki dan dua orang perempuan sudah cukup.

Misalnya, seseorang yang ingin melakukan operasi karena suatu penyakit tertentu. Agar operasi tersebut dapat terlaksana, dia memilih dua ahli bedah yang memenuhi syarat. Jika dia tidak mendapatkan dua ahli bedah, pilihan kedua adalah satu ahli bedah dan dua dokter umum (yang merupakan dokter MBBS).

Demikian juga dalam transaksi keuangan, dua laki-laki lebih diutamakan. Islam mengharapkan laki-laki yang mencari nafkah untuk keluarganya. Karena tanggung jawab keuangan dipikul oleh laki-laki, mereka diharapkan lebih mengetahui tentang transaksi keuangan dibandingkan perempuan. Sebagai pilihan kedua, saksi bisa satu laki-laki dan dua perempuan, sehingga jika yang satu khilaf atau keliru yang lain bisa mengingatkannya. Kata Arab yang digunakan dalam Al-Qur’an adalah ‘Tadlil’ yang berarti ‘bingung’ atau ‘berbuat salah’. Banyak hal kesalahan dalam kata ini diartikan sebagai ‘lupa’. Jadi transaksi keuangan merupakan satu-satunya kasus di mana persaksian dua perempuan setara dengan satu laki-laki.

Namun, beberapa ulama berpendapat bahwa sikap feminine juga dapat berpengaruh terhadap kesaksian dalam kasus pembunuhan. Dalam keadaan seperti itu seorang perempuan lebih takut dibanding seorang laki-laki. Karena kondisi emosional seperti itu dia bisa bingung. Oleh karena itu, menurut beberapa ahli hukum, dalam kasus pembunuhan, dua saksi perempuan sama dengan satu saksi laki-laki. Dalam semua kasus lainnya, persaksian satu perempuan setara dengan satu laki- laki.

Ada sekitar lima ayat dalam Al-Quran yang berbicara tentang saksi tanpa menentukan pria atau wanita.

Ketika membicarakan tentang warisan, hanya diperlukan dua orang saksi

Dalam surat Al Maidah (5) ayat 106, dikatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَلا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الآثِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang Dia akan berwasiat, Maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu[*], jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) Kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun Dia karib kerabat, dan tidak (pula) Kami Menyembunyikan persaksian Allah; Sesungguhnya Kami kalau demikian tentulah Termasuk orang-orang yang berdosa”.” (Al-Qufan 5:106).

[*] Ialah: mengambil orang lain yang tidak seagama dengan kamu sebagai saksi dibolehkan, bila tidak ada orang Islam yang akan dijadikan saksi.

Dua orang yang adil dalam kasus talak

Dalam surat Ath-Tholaaq 65 ayat 2:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (Al-Qur”an 65:2).

Diperlukan empat saksi dalam kasus tuduhan terhadap wanita yang melanggar kesucian

Dalam surat An-Noor 24 ayat 4:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik[*] (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur 24:4)

[*] Yang dimaksud wanita-wanita yang baik disini adalah wanita-wanita yang Suci, akil balig dan muslimah.

Beberapa ulama berpendapat bahwa aturan dua saksi perempuan setara dengan satu saksi laki-laki harus diterapkan untuk semua kasus. Ini tidak dapat disepakati karena satu ayat tertentu dalam Al-Qur”an dari Surah An-Nuur (24) ayat 6 dengan jelas menyetarakan persaksian satu perempuan dengan satu laki-laki.

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ

“dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar.” (An-Nuur 24:6)

Kesaksian dari mereka sendiri itu bisa diterima.

Kesaksian dari seorang Aisyah RA sudah cukup untuk dapat diterimanya sebuah hadits

Aisyah RA, istri Nabi tercinta, telah meriwayatkan tidak kurang dari 2.220 hadits yang diterima kesahihannya hanya berdasarkan pada kesaksian beliau. Hal ini merupakan bukti yang cukup bahwa kesaksian seorang perempuan juga dapat diterima.

Banyak ahli fiqih setuju, persaksian seorang perempuan sudah cukup dalam penentuan hilal (kemunculan bulan sabit kecil di awal bulan). Bayangkan, seorang kesaksian perempuan cukup untuk penentuan salah satu rukun Islam, yaitu (penentuan awal) puasa Ramadhan, dan seluruh komunitas muslim baik laki-laki maupun perempuan, setuju dan menerima kesaksiannya! Beberapa ahli fiqih mengatakan bahwa seorang saksi diperlukan pada penentuan awal Ramadhan dan dua orang saksi pada penentuan akhir Ramadhan. Tidak ada bedanya apakah saksi tersebut laki-laki atau perempuan.

Dalam beberapa kasus, saksi perempuan lebih dipilih

Dalam beberapa kasus, hanya diperlukan kesaksian dari perempuan sedangkan kesaksian dari laki-laki tidak dapat diterima. Dalam penanganan masalah-masalah perempuan, misalnya dalam memandikan (ghusl) jenazah perempuan, saksi harus seorang perempuan.

Ketidak-setaraan yang sepertinya tampak dalam transaksi keuangan bukan karena adanya ketidaksetaraan gender dalam Islam. Hal itu terjadi hanya karena adanya perbedaan kodrat dan peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat, seperti yang digambarkan dalam Islam.

Zakir Naik: http://www.irf.net/faq/faq1_13.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *